mau dapat penghasilan gratis? klik di bawah ini!

readbud - get paid to read and rate articles

Jumat, 16 April 2010

Murid Baru

..... Sambungan dari cerpen "Sekolahku, Madrasah Aliyah Al-Huda"

Hari ini, aku belajar Biologi. Praktek Perkecambahan adalah menu utamanya. Beberapa kelompok pun dibentuk. Jia, Deden, dan Rino yang menjadi teman sekelompokku, mendapatkan bagian perkecambahan Jagung. Ketika kami mulai memasukan kapas ke dalam pot mini, tiba-tiba saja Jia berbicara kepadaku,
“Hei Adi, kau tahu nggak?, hari ini akan datang dua orang murid baru. Aku, Deden, dan Rino sudah mengetahuinya dari sejam yang lalu.”
“emang kau tahu dari siapa?, jangan-jangan ini gossip, kau tahu kan ngegosip alias membicarakan orang lain itu nggak baik !, hal itu sama saja dengan memakan bangkai saudaramu sendiri”. Ujarku dengan suara pelan.
“ini bukan gossip atau membicarakan orang lain, ini fakta kok, beneran, soalnya tadi kita denger ini langsung dari kepala sekolah”. Jia berusaha meyakinkanku.

Senin, 12 April 2010

Sekolahku, Madrasah Aliyah Al-Huda


Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah pengikatnya.
Itulah sebuah hikmah atau pepatah islam yang terbesit di pikiranku ketika aku mengalami Drop Spirit dalam belajar, alias malas belajar. Alhamdulillah, setelah hikmah itu kurenungkan, malasnya jadi hilang, tapi sedikit.
Yah…walaupun begitu, aku harus tetap pergi ke tempat yang aku tuju, yaitu sekolah.
Ketika kubukakan pintu, hawa dingin mulai terasa di kulit, langit mendung menghiasi perjalananku di pagi hari ini. Kulangkahkan kaki ke tempat yang aku tuju. Namun, baru beberapa langkah saja aku berjalan, tiba-tiba saja kakak perempuanku memanggilku dari belakang,
“Adi !, kamu itu kebiasaan yah..., selalu lupa menutup pintu kalau mau pergi !”
“Oh.. afwan kak, aku lupa, aku buru-buru nih.., assalaamu’alaikum !”, aku terus melangkahkan kaki.
“ya udah, wa’alaikumussalam warohmatulloh”, kakakku menutup pintu.

Jumat, 09 April 2010

Kisah Cinta Yang Tragis


Ada apa yah ?”. Bisikku dalam hati ketika melihat orang-orang berkerumun di sekitar halaman menara milik salah satu perusahaan selular.
Aku penasaran. Tanpa sadar kedua kakiku melangkah, mendekati kerumunan tersebut.
“Din, turun nak !, ayo !”. Teriak seorang bapak di bawah menara itu.
Dipelukannya, ada seorang ibu yang menangis histeris sambil terus-menerus memanggil nama Udin. Ternyata, ada seorang pemuda yang tengah berdiri di puncak menara yang menjulang tinggi itu. Lima meter di bawahnya, merayap seorang bapak berseragam satpam yang tengah menawarkan uang seratus ribu rupiah kepada pemuda yang tatapannya terlihat suram itu.
Aku pun terkejut. Aku mencoba bertanya pada salah satu warga,
“Maaf pak, ini ada apa yah ?”